Hidup Dalam
Cinta Kasih dan Pelayanan
Bulan lalu, saya melakukan kegiatan Saint Mary’s Way yang ditugaskan dari sekolah bersama kelompok saya yaitu Nuel, Vina, Adi, Vander, Alben, Boy, Lars, Torres, Feris, Dasing, Kristia, Krisna, dan Leon. Kegiatan yang kami lakukan adalah mengunjungi oma-oma yang tinggal di Panti Asuhan Wreda Nazareth.
Sejak pagi kami sudah berkumpul di Gereja Santa Odilia dengan hati yang penuh semangat. Beberapa teman terlihat menyiapkan perlengkapan buah, dan kertas untuk kegiatan nanti.
Suasananya hangat, penuh tawa. Kami juga ditemani oleh dua guru kami, yaitu Pak Antonius Sigit Novianto dan Ibu Maria Immas Primaningtyas, yang membimbing kami agar kegiatan kami berjalan lancar dan tertib.
SEE:
Tugas saya dalam pelayanan ini adalah menjadi MC bersama teman saya yaitu Nuel. Begitu memasuki area panti, kami langsung disambut hangat oleh petugas dan para oma yang tinggal di sana. Banyak dari mereka duduk di kursi ruang tengah sambil menunggu kedatangan kami. Saya melihat mereka tersenyum lebar, seolah sudah menunggu sejak lama. Sapaan hangat itu membuat rasa canggung kami hilang. Kami pun langsung mengucapkan salam dan menyapa para oma satu per satu. Beberapa oma bahkan memegang tangan kami dengan lembut sebagai bentuk kasih sayang, dan ada yang bertanya tentang nama kami, dan sekolah kami.
Setelah itu, kami mulai berkenalan lebih dekat. Ternyata, setiap oma memiliki cerita unik dan menarik. Ada oma yang sudah berusia lebih dari 90 tahun tetapi masih bugar dan suka bercerita. Ada pula oma yang berasal dari luar kota seperti Lampung, Yogyakarta, dan kota-kota lain di Indonesia. Bahkan kami bertemu seorang oma yang berasal dari Kroasia dan pindah ke Indonesia saat masih muda karena mengikuti suaminya. Mendengar kisah mereka membuat kami sadar bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang begitu panjang.
Kegiatan dibuka dengan doa bersama. Setelah doa selesai, kami bernyanyi lagu-lagu rohani zaman dahulu untuk menciptakan suasana damai. Ada seorang oma yang sangat bersemangat ikut bernyanyi, bahkan menyanyikan sebuah lagu dari Tiongkok yang ia hafal sejak muda. Suara lembut para oma menciptakan suasana yang begitu menyentuh. Rasanya seperti berada dalam satu keluarga besar yang saling menguatkan.
Setelah bernyanyi, kami mengajak para oma bermain oper bola. Aturannya sederhana: yang mendapatkan bola akan diberi pertanyaan atau diminta menceritakan sedikit tentang pengalaman hidupnya. Ternyata permainan sederhana itu membawa tawa dan kegembiraan di ruangan. Banyak oma yang bercerita tentang masa mudanya, pekerjaannya dulu, kehidupannya bersama keluarga, bahkan pengalaman lucu yang membuat kami terpingkal. Suasana benar-benar hidup dan penuh canda tawa.
Tidak hanya bermain, kami juga memasak dan menyiapkan makanan bersama-sama. Ada yang memotong buah naga, dan pepaya, ada yang mengatur piring, dan ada juga yang membagikan roti pisang coklat kepada para oma. Kami menyuapi oma dengan lembut, mereka nyaman dan menikmati makanan tersebut. Melihat senyum mereka saat mencicipi makanan yang kami siapkan membuat kami merasa sangat bahagia.
Setelah makan, kami kembali berkumpul dan menyanyikan lagu rohani lainnya. Lagu-lagu tersebut membawa suasana nostalgia bagi para oma. Beberapa oma terlihat menutup mata sambil mengikuti alunan lagu, seakan mengenang masa lalu mereka. Kami yang melihatnya ikut merasakan ketenangan dan kedamaian. Dari situ, kami semakin menyadari bahwa kehadiran kami benar-benar membawa kebahagiaan bagi mereka, meskipun hanya untuk beberapa jam.
Di bagian akhir kegiatan, kami meminta oma-oma untuk menuliskan pesan bagi remaja zaman sekarang. Ada yang menuliskan tentang pentingnya disiplin dan kerja keras. Ada yang menekankan bahwa kita harus selalu menghormati orang tua dan tidak mudah terpengaruh pergaulan buruk. Banyak juga yang menuliskan pesan rohani agar kami selalu dekat dengan Tuhan dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Setiap pesan terasa sangat berharga, seperti nasihat dari seorang nenek kepada cucu-cucunya sendiri.
JUDGE:
Pelayanan ini adalah wujud kasih saya kepada Tuhan dan sesama. Saya melihat bahwa pelayanan ini adalah panggilan dari Tuhan Allah kepada saya agar saya bisa berbuat kasih kepada sesama.
Dari semua itu, saya menilai bahwa hidup bukan hanya soal diri sendiri. Orang-orang seperti para oma juga butuh perhatian dan kasih dari orang-orang muda seperti kami. Pelayanan ini mengajarkan saya agar tulus dalam melayani.
Pelayanan ini sesuai dengan kutipan ayat alkitab yang saya ambil dari Galatia 5:13 yang berbunyi "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih."
ACT:
Pelajaran yang saya dapat dari kegiatan Saint Mary's Way ini tidak akan saya lupakan. Saya juga akan menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Tidak hanya di sekolah, saya juga akan melakukannya di rumah dan masyarakat.
Mulai sekarang saya akan menjadi pribadi yang akan melakukan banyak perbuatan kasih mulai sekarang. Mulai dari hal kecil seperti membantu orang tua, menolong teman yang terluka, dan lain-lain.
Saya berharap kegiatan ini bisa terus saya lakukan. Demikian cerita kegiatan Saint Mary’s Way saya kali ini. Kalau kalian ingin berbagi pengalaman cerita pelayanan tulis di kolom komentar ya. Terima kasih sudah membaca.



WAH KEREN BANGETT!@!!
BalasHapusWow
BalasHapus